Senin, 04 Agustus 2014

Lebih dari pemenang



Seorang gadis menangis tersedu-sedu. Ia baru saja diputuskan oleh kekasihnya. Orangtua kekasihnya melarang anaknya menjalin relasi dengan si gadis, hanya karena gadis ini berasal dari keluarga broken home. Tiba-tiba sang gadis ingat kembali saat-saat sedih di masa SD, ketika ayahnya pergi meninggalkan keluarga mereka dan tidak pernah kembali. Ia ingat bahwa sejak itu ia selalu belajar mati-matian sehingga selalu menjadi juara kelas, agar tidak terkalahkan oleh  teman-teman yang mengejeknya sebagai “anak yang tidak punya ayah”. Ia bahkan berhasil menjadi pemenang olimpiade Sains tingkat nasional. Ia juga ingat bagaimana ketika ia mati-matian mencoba memenangkan hati seorang pria dan berhasil. Tapi, kini tak ada kebanggaan yang tersisa ketika dirinya tidak bisa bertahan sebagai pemenang dalam mengambil hati kekasihnya. Kegagalan ini dalam sekejap membuat semua gelar juara dan pemenang menjadi hampa, ia merasa terpuruk dan tidak berharga. Siapa dirinya ini? Ternyata tidak lebih dari seorang gadis malang yang pantas ditinggalkan.

Dalam kedukaan, sang gadis bersujud, berdoa dan menceritakan segala kesedihannya kepada Tuhan sambil menangis. Rasanya ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk melanjutkan kehidupannya yang kini terasa hampa. Ia berserah kepada Tuhan dan memohon: “Tuhan, .............. ini aku..............tolonglah aku”. Ia mencoba mendengarkan jawaban Tuhan baginya. Apa yang dikatakan Tuhan sebagai jawaban atas doanya? Sebuah kalimat sederhana – yang telah diucapkan setiap hari kepada kita semua- “engkau adalah anak-Ku yang Ku kasihi, Aku mengasihimu”.

Seketika itu juga sang gadis merasa lebih tenang dan lega, sebab boleh saja segala peristiwa pahit menimpa dirinya, namun tidak ada yang dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah. Boleh saja bahwa ia kehilangan gelar "pemenang", bahkan bisa saja bahwa ia bukan juara atau pemenang apapun ......namun Tuhan memberinya identitas yang lebih dari pemenang, yaitu sebagai anak yang dikasihi-Nya.






Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?
Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan,
atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,
oleh Dia yang telah mengasihi kita. 
Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup,
baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah,
baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,
atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah,
ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
 
(Roma 8:35,37-39).



Jumat, 25 Juli 2014

Perhentian yang Menguatkan Kita



Pada lebaran tahun 2011, kami sekeluarga berlibur di sebuah resort di Gunung Salak, 152 km dari Bandung. Kami melihat fotonya melalui  internet: sebuah penginapan dengan latar belakang perbukitan yang indah. Tapi yang paling menarik adalah tujuh air terjun indah di sekitarnya, yang bisa dikunjungi  dengan bantuan “guide” setempat. Tempat itu  dipromosikan sebagai “a place like no place on earth”.

Pada hari “H”, tepat hari lebaran pertama, kami berangkat jam 6 pagi supaya jalanan sepi. Kalau lancar, kami bisa sampai dalam 4 jam. Tapi ternyata jalanan macet sehingga pada pk.15.00 kami masih jauh dari tempat tujuan. Saat itu, bayangan air terjun yang indah mulai pudar, diganti rasa kecewa atas perjalanan yang melelahkan. Ketika akhirnya kami sampai di halaman resort,  matahari hampir  terbenam. Tetapi ....... ternyata kami langsung dihadiahi pemandangan dengan “sunset”  yang sangat indah, sesuai dengan yang dipromosikan. Saat itu, rasanya segala kelelahan terbayar sudah, digantikan dengan kekaguman. Saking kagumnya, anak-anak diam di sana terus, sampai papinya mengingatkan “Halo, kalian mau diam terus? Ayo kita makan malam dan istirahat dulu. Besok subuh  kan kita mau ke air terjun”.

            Walaupun mungkin kurang sempurna, hal ini bisa memberi sedikit gambaran tentang apa yang terjadi saat Yesus dimuliakan di atas gunung.

Sebelum peristiwa itu, para murid sedang sedih dan kecewa, sebab Yesus baru saja menyampaikan bahwa Ia akan menderita -bahkan dibunuh- sebelum bangkit kembali (Mrk.8:31). Mereka  tidak bisa menerima hal itu. Nah, hari itu Yesus membawa  Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk naik ke sebuah gunung, yaitu Gunung Tabor, untuk berdoa.

Ketika sedang berdoa, para murid menyaksikan bahwa “wajah-Nya berubah, pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah Musa dan Elia menampakkan diri dalam kemuliaan”. (bdk. Mrk 9:30-31). Saat melihat sendiri kemuliaan Yesus, hilanglah segala kekalutan mereka. Apalagi kemudian terdengar suara dari dalam awan: "Inilah Anak-Ku yang KuKasihi,  dengarkanlah Dia." (bdk Mrk 9:34 – 35)

            Di atas gunung ini, para murid seolah-olah diberi penghiburan ketika melihat kemuliaan Yesus dan mendengar peneguhan bahwa “Yesus adalah Putra Bapa”. Hal itu membuat mereka begitu bahagia, sehingga ingin menikmati momen itu lebih lama lagi. Maka Petrus menawarkan diri untuk mendirikan 3 kemah: untuk Yesus, Musa dan Elia (bdk Mrk.9:5). Pengalaman spiritual ini begitu mengesankan bagi Petrus, sehingga dalam suratnya kelak, Petrus mengatakan: “... Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika Bapa mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Suara itu kami dengar datang dari surga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.” (bdk 2Pet 1:16-18)

Dalam hidup ini saya juga pernah kecewa dan kehilangan semangat  ketika menghadapi situasi yang tidak diharapkan, yaitu ketika almarhumah mami mertua sakit parah. Saat itu situasi rasanya kacau: mami sakit berat dan sepulang dari RS masih perlu perawatan di rumah, sedangkan pembantu keluar semua. Dalam situasi tersebut, suami mensponsori saya ikut KEP. Perjumpaan dengan Tuhan selama KEP,  retret dan pencurahan Roh Kudus, membuat saya merasa terhibur dan dikuatkan. Mungkin saat itu saya seperti para murid di Gunung Tabor yang begitu bahagia dengan pengalamannya.
          Namun, lihat, ketika para murid ingin menikmati kebahagiaan itu lebih lama, semua penampakan itu hilang dan Yesus mengajak mereka turun gunung.  Di sini  Allah mau mengatakan bahwa momen itu hanya sebuah perhentian yang Ia berikan agar mereka beroleh kekuatan untuk menjalani penderitaan bersama Yesus. Pengalaman ini bukan “puncak kemuliaan”  yang sesungguhnya. Momen itu hanya merujuk pada sesuatu yang lebih besar, yaitu Kebangkitan Yesus setelah wafat di Salib. Jadi, peristiwa di Gunung Tabor memberi kekuatan untuk mengikuti jalan Salib-Nya ke Golgota.
       Demikianlah, keindahan di halaman resort membuat kami keesokan harinya mau menempuh perjalanan berat menuju air terjun yang kami yakini lebih indah. Pengalaman akan Tuhan dalam retret KEP memberi saya kekuatan untuk menjalani saat-saat sakitnya mami. Peristiwa Gunung Tabor memberi kekuatan bagi para murid untuk menghadapi peristiwa Golgota.

         Maka, di saat kita menghadapi kesulitan hidup, kita hendaknya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menenangkan hati, merenungkan peristiwa tersebut sambil berdoa memohon agar Tuhan mendampingi kita. Semoga kita dapat bertemu dengan-Nya dalam peristiwa-peristiwa hidup. Sebab, perjumpaan dengan Tuhan akan memberi kita kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup selanjutnya. 


      
5 Juli 2014. Dedeh @ workshop KEP "MBA".

Jumat, 18 Juli 2014

Rindu, tapi tidak berani rindu


Saya punya seorang sahabat, sebut saja namanya Budi. Kekasihnya, Gadis (bukan nama sebenarnya), adalah putri salah satu dosen yang disegani karena super disiplin namun baik hati, kita sebut saja namanya Pak Dono. 
Pada suatu hari, ketika Budi menelpon ke rumah Gadis, telpon tersebut dijawab oleh suara yang terdengar akrab. Budi yakin bahwa itu suara Doni, adik Gadis, maka ia langsung menyapa: “Halo, Don, ini Budi!” Yang disapa menyahut dengan ramah. Setelah basa-basi sedikit, entah kenapa Budi sok terlalu akrab, dan “kelepasan” menggosipkan Pak Dono sebagai dosen yang “sok ja’im” dan kuno. Setelah bercerita begitu, barulah Budi bertanya, apakah ia bisa bicara dengan Gadis. Suara itu menjawab “Oh, sebentar ya, bapak panggilkan dia.”  Ternyata ...... yang diajak bicara dari tadi adalah pak Dono! Bisa dibayangkan, bagaimana wajah dan perasaan Budi ketika itu ............. Tidak heran bahwa Budi “ingin menghilang dari peredaran” dan tidak lagi berani menelpon ataupun datang ke rumah Gadis.
Dalam kehidupan, mungkin kita juga pernah menyakiti hati seseorang yang sebenarnya kita hormati dan kita kasihi. Kita menyesal, dan sekaligus malu bahwa kita bisa berbuat seperti itu. Walaupun orang tersebut sudah mengampuni kita, kita tidak berani bertemu dengannya, sebab orang itu tahu bahwa sebagian dari diri kita ternyata tidak baik.
Kira-kira seperti itulah yang dialami oleh seseorang yang meninggal dalam persahabatan dengan Allah, namun masih membawa beberapa dosa ringan. Ia sudah bertobat, namun kesalahannya masih terasa efeknya  bagi orang lain. Ia rindu untuk “pulang” kepada Allah, tapi tidak berani. Ia belum layak masuk Surga, sebab “tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (bdk Ibr 12:14). Supaya sempurna dalam kesuciannya, ia masih harus dimurnikan di tempat penyucian atau purgatorium.
        Mungkin kita bertanya-tanya: apakah purgatorium itu benar-benar ada? Santo Gregorius Agung mengatakan: "Sebelum pengadilan, masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, di dunia yang akan datang pun tidak” (bdk. Mat 12:32). 
     Dari ungkapan ini nyatalah bahwa ada orang meninggal dengan membawa dosa  yang masih dapat diampuni. Mereka ini sudah pasti kelak akan masuk Surga, namun masih perlu disucikan. Di tempat penyucian ini mereka tidak bisa menolong dirinya sendiri, dan hanya bisa berharap pada Kerahiman Allah. Lihat! Betapa besarnya kerahiman Allah: walaupun jiwa-jiwa tersebut masih berdosa, dan “jatah waktu perjuangan”nya sudah habis, Allah memberi kesempatan untuk menyucikan dia. Santo Paulus menyebutnya sebagai “ujian oleh api”. “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api”. (Bdk. 1 Kor 3:13-15)
      Dalam kehidupan ini, ketika kita sadar telah menyakiti seseorang dan minta maaf, mungkin orang tersebut mengampuni kita. Namun kita tidak langsung berani bertemu dengannya muka hadap muka, karena merasa tidak layak untuk merindukan suasana persahabatan seperti sebelumnya, betapapun rindunya. Kita tidak berdaya. Pada titik ini kita memerlukan bantuan orang lain untuk berekonsiliasi dengan teman kita dan dengan diri sendiri.
    Demikianlah, para jiwa di purgatorium juga tidak bisa menolong diri sendiri, dan memerlukan bantuan kita untuk berekonsiliasi dengan Allah sehingga masuk dalam kebahagiaan Surga. Berdasarkan kutipan Injil dan bacaan-bacaan tadi, Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita dapat mendoakan mereka. Gereja mendoakan mereka dalam setiap Ekaristi "Berikanlah istirahat kekal kepada mereka dan kepada semua saudara yang meninggal dalam Kristus, kasihanilah dan sambutlah mereka dalam pangkuan-Mu." Gereja bahkan menetapkan tanggal 2 November sebagai hari khusus untuk mendoakan arwah semua orang beriman.
         Nah, kita tahu sekarang, bahwa jiwa-jiwa di purgatorium memerlukan bantuan kita. Maka, sebagai Gereja yang masih berziarah di dunia, kita dipanggil untuk mendoakan mereka, memohonkan Kerahiman Allah agar menerima mereka di  Surga.
       Pada kisahnya Budi, dengan bantuan Gadis, akhirnya Pak Dono  yakin akan cinta dan kemurnian Budi, dan menerimanya di rumah mereka. Budi pun dengan sukacita menerima berkat tersebut. Demikianlah, seperti Gadis membantu Budi untuk diterima di rumah bapanya, kita juga bisa membantu jiwa-jiwa di purgatorium agar Allah menerima mereka di Surga.
Maka, marilah kita mendoakan jiwa-jiwa orang beriman. Semoga dengan bantuan doa-doa kita, berkat Kerahiman Tuhan, mereka segera diterima di Rumah Bapa kita di Surga.
    
Juni 2014. Dedeh S @workshop "MBA"

Selasa, 01 Juli 2014

Jangan mati dulu, Mang Ucup!




            Tinker bell adalah malaikat kecil dengan gaun terbuat dari daun berwarna hijau. Pada suatu masa, dia ditarik oleh Tuhan dari Neverland –tempat tugasnya sebagai peri-, dan dipindahtugaskan untuk menjadi malaikat pelindung Mang Ucup di negara “Entah di mana”. Mulanya Tink agak sedih, karena ia senang dengan pekerjaannya sebagai peri yang bertugas memperbaiki panci dan ceret di Neverland (ia punya kreativitas baru, membuat bel)! Ia juga terpaksa berpisah dengan Peter Pan yang sudah lama menjadi sahabatnya. Tapi kemudian Tink mulai menyukai tugas barunya menjaga mang Ucup. Mang Ucup adalah seorang pria yang rajin, sukses dalam bisnisnya, kaya raya, baik dan dermawan. Temannya banyak dan anak-anaknya menjadi pengusaha sukses juga seperti ayahnya.

            Pada suatu hari, sesudah berusia 71 tahun, mang Ucup memutuskan bahwa masa hidupnya sudah cukup. Ia terinspirasi oleh berita tentang Moek Heringa, seorang nenek warga Belanda yang pada tahun 2010 mengakhiri hidupnya dengan setumpuk pil tidur, hanya karena ia sudah berusia 99 tahun dan bosan hidup. Dengan segera “my last will pill” ini menjadi topik pembicaraan dan sejumlah lansia di Belanda mengikuti trend ini. Mang Ucup kemarin mendengar berita ini dan terinspirasi juga. Diam-diam, ia sebenarnya khawatir kalau-kalau ternyata dengan bertambahnya usia, ia terkena stroke, parkinson, dan pikun sehingga menyusahkan anak-anaknya dan menghabiskan banyak biaya. Maka ia berpikir ia mau menelan pil kematian juga. Lagi pula, menurutnya, lebih baik mati sekarang, saat temannya masih banyak, sehingga mereka akan menghadiri pemakamannya. “My last will pill, yess!”, pikirnya. Maka ia mulai merancang pesta perpisahan, upacara menelan pil kematian dan upacara pemakamannya.

Membaca pikiran mang Ucup itu, Tinker bell -yang kini menjadi malaikat pelindungnya-  langsung gelisah, ia membunyikan panci, ceret dan bel kecilnya. Oh, astaga! Kenapa bisa begini? Kegawatan! Code blue! Code blue! SOS! SOS! Wajah Tink menjadi merah, pipinya menggembung dan ia terbang kian kemari sambil menaburkan debu .............. Tink-tink-tink-kriiiiiiing .........Stop! Stop, Mang Ucup!

            Mang Ucup masih melamun, dan bangga dengan ide kreatifnya. Dalam lamunannya, tiba-tiba mang Ucup seakan-akan mendengar bunyi bel atau lonceng berdenting. Ah, lonceng apa ya itu? Tink-tink-tink-kriiiiing ..............Sepertinya ia mengenalinya .......... tapi entah di mana ia pernah mendengarnya. Di antara bunyi lonceng itu ia melihat wajah keluarganya. Pasti mereka akan berterimakasih karena Mang Ucup tidak menyusahkan mereka, bahkan meninggalkan banyak warisan. Ia benar-benar tidak egois, kan? Bahkan, salah satu rumahnya dihibahkan kepada panti asuhan. Wah, bukan main. Pahalanya pasti banyak ......... Dan kematiannya juga pasti tidak menyakitkan, seperti tidur, wajar, dikelilingi seluruh anggota keluarga ................... kematian yang tampak tenang dan indah.  Aduh, tapi apa ini? Ada bunyi lonceng terus-menerus berdering lembut di telinganya ....... halusinasi apa ini?

            Tinker bell masih gelisah. Ia terus membunyikan ceret, panci dan bel yang dipegangnya di telinga Mang Ucup. Tink-tink-tink-kriiiiing ..............  Tink ingin cemberut, tapi entah kenapa tidak bisa. Ia menaburkan debu sambil terbang di sekitar Mang Ucup. Tapi aneh, debu ini berubah .......... tidak lagi bisa membuat keajaiban .......... tidak seperti debu peri biasanya .............. Sambil terbang ia mengepakkan sayap dengan gelisah .......... dan tiba-tiba ia teringat. Pastilah debu peri-nya tidak bekerja dan ia tidak bisa cemberut, sebab kini ia bukan lagi peri, melainkan malaikat pelindung. Dan malaikat pelindung tentu saja hanya bisa tersenyum, mencintai dan melindungi. Seorang malaikat bekerja bukan dengan menabur debu peri, melainkan dengan doa dan permohonan kepada Allah. Maka ia mulai berdoa, memohon kepada Allah agar menyelamatkan mang Ucup: “Tuhan, tolonglah .....”

            Mang Ucup masih yakin dengan rencananya. Yes! Ia akan mati dengan senyuman, sebab ia telah berbuat kebaikan dengan sempurna. Tapi suara dering bel itu masih sayup-sayup terdengar, memanggil memorinya tentang sebuah lonceng ................ yang suka dibunyikan oleh para putra Altar ketika Imam sedang mengangkat Hosti dan Anggur di Gereja. Dan, tiba-tiba bersama bunyi lonceng itu, ada sebersit cahaya melintas di depan matanya: cahaya kecil berbentuk peri yang cantik seperti dalam film-film Disney............  haha ......... halusinasi lagi ............

Dan, sekarang ia seperti menyaksikan video klip “kematian indah” yang dirancangnya tadi. Ia akan minum pil kematian diiringi lagu pilihannya, dengan mengenakan stelan jas terbaik, dan parfum termahal. Tapi kenapa istri dan anak-anaknya menangis terus? Harusnya mereka senang karena mendapat harta warisan. Tapi ternyata mereka bersedih karena kehilangan dia. Istrinya bahkan pingsan berkali-kali sambil menjerit “Aku tidak mau terima uang asuransi jiwa suamiku! Ambil sana! Kembalikan Mang Ucup. Mang Ucuuup .. jangan mati dulu!”. Ternyata dia sangat mencintai Mang Ucup! Tiba-tiba mata mang Ucup seperti X-ray, menembus tubuh istrinya lima tahun kemudian, dan menemukan sebuah kanker besar di sana, yang tumbuh karena stress ditinggal mati Mang Ucup. Oh, tidak! ........... Istrinya akan menderita lama sampai kanker itu menjalar ke mana-mana. Ia akan kesakitan, dan anak-anak tidak bisa menemaninya sebab mereka semua sibuk bekerja. Mereka akan membayar seorang care-giver, dan menitipkan istrinya kepada care-giver yang ternyata sembrono dan pemalas, dan istrinya ditelantarkan dalam kesakitan, sampai mati dalam kesepian. Oh, tidak! Mang Ucup harusnya ada di sana, merawat istrinya waktu sakit, menjaga dan mendampinginya!  .........................  Dan, lorong di depannya ini ......... kenapa berakhir di tempat gersang penuh dengan jiwa-jiwa yang berbentuk mengerikan, penuh ratap tangis dan api bernyala? Dan lihat ................. dalam daftar Santo Petrus Sang Penjaga Pintu Surga, nama mang Ucup dicoret dengan spidol merah tebal dengan catatan “Hidupnya selama 70 tahun cukup baik. Tetapi pada akhirnya menolak kehidupan, dan memilih kematian”.

            Mang Ucup gemetar. Tidak! Ternyata menelan pil kematian bukanlah cara meninggal yang wajar dan indah. Ternyata menelan pil kematian berarti menolak kehidupan. Menolak kehidupan berarti memilih kematian kekal. Dan kematian kekal itu mengerikan! Mang Ucup adalah seorang yang pintar, dan tentu saja orang pintar akan memilih ....  tolak angin ........ eh, kehidupan! Lagipula, ternyata istrinya sangat mencintai Mang Ucup, lebih daripada harta warisan (padahal Mang Ucup sudah keriput, ompong, perutnya buncit dan wajahnya penuh flek penuaan). Oh, tidak! Istri yang dicintainya ............   Mang Ucup cepat-cepat mengusir pikiran kacau yang tadi memenuhi otaknya. Ia menghalau lamunannya. Ia menyesal telah berpikir sembrono, dan bergegas memakai sepatu. Astaga, untunglah rencana itu belum dilaksanakan. Mengerikan sekali! Dan mengerikan sekali bahwa ia sempat berpikir seperti itu. Rasanya ia perlu ke Gereja dan mohon ampunan Tuhan ....... ia rindu mendengar bunyi dering lonceng yang tadi menyelamatkan pikirannya. Rupanya bunyi lonceng itu bukan halusinasi, tapi pertanda  ................

            Tinker bell terbang sambil menaburkan debu ........ tiba-tiba debu itu bercahaya, dan cahayanya melesat ke langit ....... Tink menengadah, tampak olehnya beberapa Malaikat Tuhan, para Serafim dengan lagu puji-pujian dan Kerubim dengan pedang menyala-nyala. Di atas mereka, Tuhan tersenyum ............. Tink terseyum manis. Rambut pony-tail-nya bergerak dihembus angin yang berderu kencang. Pipinya menggelembung dan bersemu kemerah-merahan. Tinker Bell bersujud hormat, menundukkan kepala dan berbisik “Terimakasih, Tuhan .............”


---+---
 Dedeh Supantini, dalam: Buletin KDKJB.
Sebagai tanggapan atas artikel kiriman DG "sudah bosan hidup"